TRADISI DAN KEARIFAN LOKAL SEBAGAI IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT KOTABARU
Keywords:
tradisi, kearifan lokal, identitas budaya, komunikasi simbolik, KotabaruAbstract
Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan tradisi dan kearifan lokal sebagai identitas budaya masyarakat di Kotabaru. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif antropologi budaya dan komunikasi simbolik. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dokumentasi, dan studi pustaka terhadap berbagai praktik budaya masyarakat pesisir Kotabaru. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi dan kearifan lokal masyarakat Kotabaru tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga menjadi representasi identitas sosial masyarakat. Tradisi seperti Mappanre Tasi, budaya gotong royong, kesenian tradisional, tradisi lisan, dan penggunaan bahasa daerah mengandung nilai simbolik, religius, sosial, dan ekologis. Tradisi tersebut berfungsi sebagai media pewarisan nilai budaya, solidaritas sosial, serta hubungan harmonis antara manusia dan alam. Keragaman budaya masyarakat Kotabaru yang terdiri atas berbagai etnis seperti Banjar, Bugis, Mandar, Jawa, dan Dayak juga membentuk karakter budaya multikultural yang khas. Di tengah arus modernisasi dan globalisasi, budaya lokal menghadapi berbagai tantangan berupa menurunnya minat generasi muda, perubahan pola hidup masyarakat, serta pengaruh budaya populer dan media digital. Oleh karena itu, pelestarian budaya lokal melalui pendidikan berbasis budaya, dokumentasi tradisi, penguatan peran tokoh adat, serta pemanfaatan media digital menjadi langkah strategis dalam mempertahankan identitas budaya masyarakat Kotabaru.
Downloads
References
Anderson, B. (1983). Imagined communities: Reflections on the origin and spread of nationalism. Verso.
Appadurai, A. (1996). Modernity at large: Cultural dimensions of globalization. University of Minnesota Press.
Barthes, R. (1977). Image, music, text. Fontana Press.
Bourdieu, P. (1991). Language and symbolic power. Harvard University Press.
Capra, F. (1996). The web of life: A new scientific understanding of living systems. Anchor Books.
Creswell, J. W. (2014). Research design: Qualitative, quantitative, and mixed methods approaches (4th ed.). Sage Publications.
Durkheim, E. (1984). The division of labor in society. Free Press.
Freire, P. (1970). Pedagogy of the oppressed. Continuum.
Geertz, C. (1973). The interpretation of cultures. Basic Books.
Giddens, A. (1990). The consequences of modernity. Stanford University Press.
Hall, S. (1997). Representation: Cultural representations and signifying practices. Sage Publications.
Koentjaraningrat. (2015). Pengantar ilmu antropologi. Rineka Cipta.
McLuhan, M. (1964). Understanding media: The extensions of man. McGraw-Hill.
Miles, M. B., & Huberman, A. M. (1994). Qualitative data analysis: An expanded sourcebook (2nd ed.). Sage Publications.
Moleong, L. J. (2018). Metodologi penelitian kualitatif. Remaja Rosdakarya.
Ong, W. J. (1982). Orality and literacy: The technologizing of the word. Methuen.
Peirce, C. S. (1931). Collected papers of Charles Sanders Peirce. Harvard University Press.
Saussure, F. de. (1916). Course in general linguistics. McGraw-Hill.
Sapir, E. (1921). Language: An introduction to the study of speech. Harcourt Brace.
Spradley, J. P. (1980). Participant observation. Holt, Rinehart and Winston.
Sugiyono. (2022). Metode penelitian kualitatif. Alfabeta.
Suparlan, P. (2004). Masyarakat dan kebudayaan perkotaan: Perspektif antropologi perkotaan. Yayasan Pengembangan Kajian Ilmu Kepolisian.
Vansina, J. (1985). Oral tradition as history. University of Wisconsin Press.
Whorf, B. L. (1956). Language, thought, and reality: Selected writings of Benjamin Lee Whorf. MIT Press.







