IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT BAJAU DI RAMPA CENGAL:KAJIAN TRADISI MARITIM DAN KEARIFAN LOKAL

Authors

  • Yanti STKIP Paris Barantai Author

Keywords:

identitas budaya, masyarakat Bajau, tradisi maritim, kearifan lokal

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis identitas budaya masyarakat Bajau di Rampa Cengal, Kabupaten Kotabaru, melalui kajian tradisi maritim dan kearifan lokal yang masih dipertahankan dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode etnografi. Data diperoleh melalui observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi yang melibatkan tokoh adat, tokoh agama, nelayan, perempuan, pemuda, dan masyarakat Bajau. Analisis data dilakukan menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa identitas budaya masyarakat Bajau dibangun melalui hubungan yang erat dengan laut sebagai ruang kehidupan, sumber ekonomi, dan simbol budaya. Tradisi Selamatan Leut Bajau Sammah berfungsi sebagai sarana reproduksi budaya yang memperkuat solidaritas sosial dan pewarisan nilai budaya antargenerasi. Bahasa Bajau tetap dipertahankan sebagai penanda identitas etnik meskipun menghadapi pengaruh globalisasi dan dominasi bahasa Indonesia. Selain itu, masyarakat Bajau memiliki kearifan lokal maritim berupa pengetahuan tradisional mengenai cuaca, arah angin, arus laut, dan musim penangkapan ikan yang diwariskan secara turun-temurun. Modernisasi tidak menghilangkan identitas budaya masyarakat Bajau, tetapi mendorong terjadinya adaptasi budaya melalui proses negosiasi antara tradisi dan modernitas. Penelitian ini menegaskan bahwa keberlanjutan identitas budaya masyarakat Bajau di Rampa Cengal ditopang oleh tradisi maritim, bahasa, kearifan lokal, dan nilai-nilai kolektif yang diwariskan dalam kehidupan komunitas.

Downloads

Download data is not yet available.

References

Acciaioli, G. (2001). Culture as Art: From Practice to Spectacle in Indonesia. Canberra: Australian National University.

Berkes, F. (2012). Sacred Ecology (3rd ed.). New York: Routledge.

Durkheim, E. (1912). The Elementary Forms of Religious Life. New York: Free Press.

Geertz, C. (1973). The Interpretation of Cultures. New York: Basic Books.

Giddens, A. (1991). Modernity and Self-Identity: Self and Society in the Late Modern Age. Stanford: Stanford University Press.

Hall, S. (1997). Representation: Cultural Representations and Signifying Practices. London: Sage Publications.

Koentjaraningrat. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Rineka Cipta.

Miles, M. B., Huberman, A. M., & Saldaña, J. (2014). Qualitative Data Analysis: A Methods Sourcebook (3rd ed.). Thousand Oaks, CA: Sage Publications.

Nimmo, H. A. (2001). Magosaha: An Ethnography of the Tawi-Tawi Sama Dilaut. Quezon City: Ateneo de Manila University Press.

Sather, C. (1997). The Bajau Laut: Adaptation, History, and Fate in a Maritime Fishing Society of South-Eastern Sabah. Kuala Lumpur: Oxford University Press.

Spradley, J. P. (2007). Metode Etnografi. Yogyakarta: Tiara Wacana.

Stacey, N. (2007). Boats to Burn: Bajo Fishing Activity in the Australian Fishing Zone. Canberra: ANU E Press.

Steward, J. H. (1955). Theory of Culture Change: The Methodology of Multilinear Evolution. Urbana: University of Illinois Press.

Verdhana, B. (2026). Selamatan Leut Bajau Sammah: Ritual maritim dan kearifan budaya masyarakat Kotabaru. SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, dan Budaya, 1(1), 30–40. https://semiora.stkippb.com/semiora/article/view/6

Published

2026-06-01

How to Cite

IDENTITAS BUDAYA MASYARAKAT BAJAU DI RAMPA CENGAL:KAJIAN TRADISI MARITIM DAN KEARIFAN LOKAL. (2026). SEMIORA: Jurnal Bahasa, Semiotika, Dan Budaya , 1(1), 41-49. https://semiora.stkippb.com/semiora/article/view/7

Similar Articles

1-10 of 11

You may also start an advanced similarity search for this article.